Rabu, 22 Juni 2016

ESSAY

Motivasi Kerja Mahasiswa Jurusan Akuntansi Setelah Mempelajari Bidang-Bidang Akuntansi

            Perkembangan zaman menuntut lulusan sarjana yang lebih berkualitas, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan (skill) dan pengetahuan (knowledge) yang lebih dalam dunia kerja. Tidak hanya Kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan juga bergantung pada karir atau profesi yang akan dipilih, namun juga sangat diperlukan untuk meningkatkan potensi diri dengan penguasaan beberapa keterampilan seperti keterampilan berbahasa asning dan penguasaan teknologi seperti komputer. Salah satu karir yang membutuhkan kemampuan dan pengetahuan lebih tersebut adalah karir dalam bidang akuntansi. Karir dalam bidang akuntansi cukup luas antara lain akuntan publik, akuntan perusahaan, akuntan pendidik dan akuntan pemerintah. (Setiawan2012). Sarjana akuntansi paling tidak mempunyai tiga alternatif langkah yang dapat ditempuh. Pertama, setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi jurusan akuntansi, seseorang dapat langsung bekerja. Kedua, melanjutkan pendidikan akademik jenjang Strata-2. Ketiga, melanjutkan pendidikan profesi untuk menjadi akuntan publik. Ditinjau secara umum (objektif), karir dipandang sebagai suatu urutan-urutan posisi yang diduduki oleh seseorang selama jangka waktu hidupnya, sedangkan ditinjau dari sudut pandang subjektif karir dipandang sebagai perubahan – perubahan dalam nilai, sikap dan motivasi yang terjadi karena seseorang menjadi tua (Eva Wany, 2011). Karir merupakan suatu akumulasi dan pengetahuan yang tertanam pada skill,expertise, dan jaringan hubungan kerja yang lebih luas. pemilihan karir mahasiswa akuntansi ditentukan oleh pengharapan akan  karir yang akan mereka pilih apakah karir tersebut dianggap dapat memenuhi  kebutuhan individu mereka dan apakah karir tersebut mempunyai daya tarik bagi  mereka. Misalnya apakah karir tersebut dapat memberikan imbalan organisasi  yang layak seperti bonus, kenaikan penghargaan finansial/ gaji atau promosi. Dengan kata lain mahasiswa mempunyai pengharapan terhadap karir yang dipilihnya  ini dapat memberikan apa yang mereka inginkan ditinjau dari faktor-faktor nilai intrinsic pekerjaan, penghargaan finansial/ gaji, pelatihan  profesional, pengakuan profesional,
nilai sosial, lingkungan kerja, pertimbangan  pasar kerja dan personalitas. Tujuan seseorang belajar di perguruan tinggi atau universitas bukan lagi hanya untuk mencari ilmu, akan tetapi setelah lulus dari perguruan tnggi nantinya seseorang tersebut mendapat pekerjaan yang layak sesuai dengan yang diharapkan atau dicita-citakan. Banyak perguruan tinggi ternama, baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta dari berbagai jurusan disiplin ilmu yang berlomba-lomba menciptakan peserta didik atau lulusan yang terbaik dan siap bersaing di dunia pekerjaan nantinya, karena tidak dapat dipungkiri lapangan pekerjaan saat ini sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah pencari kerja. Dalam memilih karir yang akan dijalaninya, mahasiswa akuntansi memiliki berbagai macam pertimbangan untuk memilih karir apa yang akan dijalaninya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terdiri dari penghargaan finansial, pelatihan profesional, nilai-nilai sosial, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja dan personalitas.
Sumber :
-          Lara Absara Aprilyan dan Herry Laksito. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi dalam Pemilihan Karir menjadi Akuntan Publik (Studi Empiris pada Mahasiswa Akuntansi UNDIP dan Mahasiswa Akuntansi UNIKA). Universitas Diponegoro.
-          Tiya Dewi Febriana. 2014. Analisis Faktor-Faktor Dalam Pemilihan Karir Akuntan Publik Dan Non Akuntan Publik Bagi Mahasiswa Jurusan Akuntansi. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
-          Adif Nugroho. 2014. Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Minat Mahasiswa Akuntansi Untul Berkarir Menjadi Akuntan Publik (Studi Kasus Pada Universitas Sebelas Maret Surakarta)
Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

                                Nama             : F. Rianawati
                                Dosen            : Jessica B, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI



Analisis Jurnal 3

Analisis Jurnal 3
Topik/Tema                 : Pengaruh Tingkat Kecerdasan dan Pengalaman Audit Terhadap Kesiapan Auditor Dalam Menghadapi AFTA 2015 (Studi Empiris Pada Auditor Di Kantor Akuntan Publik Provinsi Bali)
Nama Penulis/Peneliti : I Gusti Agung Krisna Lestari, I Made Sadha Suardikha, dan Ni Made Dwi Ratnadi
Ringkasan                   :
            Asean Free Trade Area (AFTA) adalah suatu organisasi penting yang tidak bisa terlepas dari kegiatan ASEAN Economic Community (AEC).  Indonesia sebagai salah satu negara yang menyetujui AFTA, akan segera memasuki era perdagangan bebas, sehingga Indonesia akan bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya. Akuntan di Indonesia masih kalah jika dilihat dari segi kuantitas, apabila  dibandingkan dengan akuntan negara tetangga. Sebanyak 17.649 jumlah anggota Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang dipublikasikan dalam laporan terbarunya. Tingkat kecerdasan auditor dalam memahami IFRS tentu menjadi salah satu tolak ukur kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015. Untuk menghadapi AFTA 2015 seorang auditor harus meningkatkan kualitas, kuantitas dan kemampuan dalam berkomunikasi dengan bahasa asing. Populasi yang digunakan dalampenelitian ini adalah Kantor Akuntan Publik terdaftar di Provinsi Bali. Daftar KAP terdaftar di Provinsi Bali. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Nonprobability sampling yakni sampling jenuh, dimana dalam hal ini semua anggota populasi dijadikan sampel. Penyebaran kuesioner dalam bentuk pernyataan tertulis menggunakan Skala Likert 4 poin, Bali memiliki 9 KAP yang terdaftar pada Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Variabel yang digunakan adalah tingkat kecerdasan dan pengalaman auditor dan kesiapan auditor dalam menghadpai AFTA 2015. Penelitian ini menggunakan Analisis regresi linier berganda digunakan sebagai teknik analisis data dalam penelitian ini. pengujian instrument dilakukan sebelum uji regresi, kemudian uji asumsi klasik yang terdiri atas uji normalitas dilakukan, serta uji heteroskedastisitas. Hasil penelitian didapat keseluruhan jumlah auditor KAP di Bali pada tahun 2015 adalah  98 orang, namun ketika disaring lagi diperoleh total sampel penelitian yang digunakan berjumlah 75 auditor. Dari hasil karakteristik responden menunjukkan bahwa  sebanyak 52 orang (83,87 %) auditor di Bali berusia < 30 tahun dan jenis kelamin auditor di Bali sebagian besar adalah laki-laki sebanyak 32 orang (51,61 %). Tingkat pendidikan auditor di Bali sebagian besar adalah lulusan S1 dengan persentase sebanyak 38 orang (61,29 %), dan sebanyak 42 orang (67,74 %) auditor di Bali bekerja sebagai auditor paling lama sekitar 1-3 tahun. Dari hasil statistic deskriptif diperoleh dimana hasil cenderung mendekati nilai max, yang berarti sebagian besar jawaban responden mengenai variabel pengalaman audit adalah setuju. Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen sehingga penelitian ini mampu menghasilkan penelitian yang valid dan juga reliable, guna menguji instrumen yang  ada  pada penelitian ini. hasil pengujian yang  menunjukkan seluruh nilai koefisien korelasi pada instrumen ini bernilai lebih besar dari 0,3, sehingga instrumen penelitian ini dapat dikatakan valid. Pada hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa koefisien tolerence pada variabel tingkat kecerdasan adalah  0,822, lebih besar daripada 0,1 dan VIF adalah 1,216 lebih kecil daripada 10. Hasil diatas menunjukkan bahwa tidak adanya gejala multikolinear pada variabel tingkat kecerdasan serta pengalaman audit pada penelitian ini.  Sedangkan hasil uji Heteroskedastisitas diperoleh hasil uji glejser pada penelitian ini, diketahui bahwa penelitian ini bebas dari indikasi heteroskedastisitas karena tidak terdapat nilai absolute residual variabel bebas yang memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Berdasarkan hasil uji regresi liner berganda, besarnya nilai Adjusted R Square 0,522 menunjukkan bahwa 52,2% variabel dependen kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015 dapat dijelaskan oleh variabel independen tingkat kecerdasan dan pengalaman audit. Sisanya sebesar 47,8% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dilibatkan ke dalam model penelitian ini. Nilai standard error of the estimate (SEE) menunjukkan nilai sebesar 2,66313, berarti semakin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen. Hasil uji statistic t diperoleh nilai konstantas sebesar 16,807 mengandung arti jika tingkat pemahaman IFRS dan pengalaman audit dianggap konstan pada angka 0 (nol), maka nilai terhadap kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015 (Y) sebesar 16,807. Sedangkan untuk tingkat pemahaman IFRS (X1) meningkat sebesar 0,376, maka akan mengakibatkan peningkatan pada kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015 (Y). Sedangkan untuk pengalaman audit (X2) meningkat sebesar 0,809, maka akan mengakibatkan peningkatan pada kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015 (Y). sedangkan Nilai signifikansi uji t menunjukkan bahwa variabel tingkat kecerdasan memiliki nilai koefisien positif 4,664 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari tingkat signifikansi a=5% atau 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan Berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015. Nilai signifikansi uji t variabel pengalaman audit memiliki nilai berpengaruh positif 4,238 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hasil pengujian hipotesis satu (H1)  diterima, yakni tingkat kecerdasan berpengaruh pada kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan seorang auditor dalam memahami IFRS maka akan cenderung semakin tinggi kesiapan yang ia miliki untuk menghadapi AFTA 2015. Hasil pengujian hipotesis dua (H2) diterima, yakni pengalaman audit berpengaruh pada kesiapan auditor dalam menghadapi AFTA 2015. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak atau semakin lama pengalaman seorang auditor maka cenderung semakin siap auditor tersebut  dalam menghadapi AFTA 2015.

Sumber : I gusti Agung Krisna Lestari, I made Sadha Suardikha, Ni Made Dwi Ratnadi. 2016. Pengaruh Tingkat Kecerdasan Dan Pengalaman Audit Terhadap Kesiapan Auditor Dalam Menghadapi AFTA 2015 (Studi Empiris pada Auditor di Kantor Akuntan Publik Provinsi Bali). E-jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 5.5 (2016). Universitas Udayana. Bali.

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

                                   Nama          : F. Rianawati
                                   Dosen         : Jessica B, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI

Analisis Jurnal 2

Analisis Jurnal 2
Topik/Tema                 : Corporate Governance
Judul                           : Peran Struktur Corporate Governance Dalam Tingkat Kepatuhan Pengungkapan Wajib Periode Setelah Konvergensi IFRS (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdapat Di Bursa Efek Indonesia)
Nama Penulis/Peneliti : Barbara Gunawan dan Eka Riana Hendrawati
Ringkasan :
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi International Financial Reporting Standard (IFRS) pada perusahaan manufaktur, serta untuk mengetahui pengaruh struktur corporate governance (CG) yang diukur dengan jumlah anggota dewan komisaris, kepemilikan manajerial, proporsi komisaris independen, latar belakang pendidikan, komisaris utama, proporsi komisaris wanita dan jumlah anggota komite audit terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure tersebut. Penerapan IFRS di Indonesia ini dilatarbelakangi oleh tuntutan global dunia usaha sehingga setiap perusahaan lebih meningkatkan kualitas informasi laporan keuangan dan laporan tahunan yang telah disusun serta bertujuan untuk terciptanya Good Corporate Governance (GCG). Data yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah data sekunder. Sedangkan sampel dalam penelitian tersebut adalah peruahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2012-2013 dengan menggunakan metode pengambilan data yaitu purposive sampling. Penelitian ini menggunakan tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS sebagai variabel Dependen. Pada pengungkapan tersebut wajib diukur dengan menggunakan teknin scoring, yakni jika item tersebut dapat diterapkan (applicable) dalam perusahaan dan diungkapkan diberi skor 1 dan jika tidak diungkapkan diberi skor 0, serta N/A jika item tersebut tidak dapat diterapkan dalam perusahaan. Sedangkan variabel independen penelitian tersebut ialah jumlah anggota dewan komisaris, kepemilikan manajerial, proporsi komisaris independen, latar belakang komisaris utama, proporsi komisaris wanita, dan jumlah anggota komite audit. Analisis yang digunakan adalah analisa pengujian statistic deskriptif dan analisa pengujian hipotesis. Sedangkan metode statistic yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi berganda. Hasil dari penelitian tersebut didapat uji hipotesis satu (H1),  Variabel jumlah anggota dewan komisaris mempunyai nilai sig 0,029 < a (0,05) dan arah koefisien regresi positif 2,826 berarti jumlah anggota dewan komisaris berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS, uji hipotesis dua (H2) Variabel kepemilikan manajerial mempunyai nilai sig 0,927 > a (0,05) dan arah koefisien regresi  negatif 0,005 berarti kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis dua (H2) ditolak. Uji hipotesis tiga (H3) Variabel proporsi komisaris independen mempunyai nilai sig 0,135 > a (0,05) dan arah koefisien regresi negatif 20,116 berarti proporsi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis tiga (H3) ditolak. Uji hipotesis empat (H4) Variabel latar belakang komisaris utama mempunyai nilai sig 0,341 > a (0,05) dan arah koefisien regresi positif 2,848 berarti latar belakang komisaris utama independen tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis empat (H4) ditolak. Uji hipotesis kelima (H5) Variabel proporsi komisaris wanita mempunyai nilai sig 0,189 > a (0,05) dan arah koefisien regresi positif 13,618 berarti proporsi komisaris wanita tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis lima (H5) ditolak dan uji hipotesis keenam (H6) Variabel jumlah anggota komite audit mempunyai nilai sig 0,001 < a (0,05) dan arah koefisien regresi positif 10,180 berarti jumlah anggota komite audit berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis enam (H6) diterima. Dari hasil uji hipotesis tersebut diketahui  bahwa variabel jumlah anggota dewan komisaris dan jumlah anggota komite audit berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS, sedangkan variabel kepemilikan manajerial, proporsi komisaris independen, latar belakang komisaris uama, dan proporsi komisaris wanita tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS.

Sumber : Barbara Gunawan dan Eka Riana Hendrawati. 2016. Peran Struktur Corporate Governance Dalam Tingkat Kepatuhan Pengungkapan Wajib Periode Setelah Konvergensi IFRS (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Brsa Efek Indonesia). Berkala Akuntansi dan Keuangan Indonesia Vol.1 No.1 2016. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

                                  Nama           : F. Rianawati
                                  Dosen          : Jessica B, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI

Analisi Jurnal 1

Analisis Jurnal 1
Topik/Tema                 : Informasi Akuntansi
Judul                           : Kualitas Informasi Akuntansi Pra dan Pasca Adopsi IFRS
Nama Penulis/Peneliti : Lusiana Rahmawati dan Henny Murtini
Ringkasan                   :
            Informasi akuntansi yang berkualitas adalah informasi yang memenuhi karakteristik kualitas informasi akuntansi yaitu relevansi, reliability, komparabilitas dan konsistensi (Kieso dan Weigandt, 2007:37). Indonesia mengadopsi IFRS pada tahun 2012. Adopsi IFRS ini merupakan salah satu upaya Indonesia untuk membuka peluang pasar modal internasional. Adapun manfaat yang diperoleh dari adopsi IFRS diantaranya adalah memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang dikenal secara Internasional, meningkatkan arus investasi global melalui transparansi, menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara global, menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan. Pengadopsian IFRS di Indonesia mengalami berbagai kendala salah satunya yaitu kurang siapnya infrastruktur sseperti DSAK sebagai Financial Accounting Standar Setter. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2010-2013. Perusahaan yang dipilih merupakan entitas dengan akuntanbilitas signifikan yang diwajibkan menggunakan PSAK-IFRS dalam penyusunan laporan keuangan. Sampel dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur terdaftar di BEI yang memenuhi kriteria purposive sampling sehingga didapat sampel sejumlah 152 dari perusahaan yang terdaftar di BEI selama tahun yang diteliti, sehingga diperoleh 148 observasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya manajemen laba (Earnings Management) dan Relevansi Nilai. Data yang digunakan dalam penelitian ini data sekunder berupa laporan tahunan dari tahun 2010-2013 dan harga saham bulanan dalam laporan statistic bulan maret dari tahun 2011-2014 karena data yang digunakan adalah per maret tahu t+1. Metode analisis yang digunakan pada uji t sampel berpasangan (paired-sample t test), uji ini digunakan untuk menguji ada atau tidaknya perbedaan pada besarnya manajemen laba antara periode sebelum dan sesudah adopsi IFRS dan uji ini dilakukan terhadap manajemen laba yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok sampel sebelum adopsi tahun 2010-2011 dan kelompok sesudah adopsi terdiri dari tahun 2012-2013. Sedangkan uji Chow (chow test) dilakukan untuk uji variabel relevansi nilai. Dari hasil penelitian yaitu uji hipotesis pertama pada paired-sample t test didapat hasil nilai t sebesar 0,606 , nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga Ha ditolak  yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara manajemen laba sebelum dan sesudah adopsi IFRS. Hipotesis tersebut ditolak mungkin karna penerapan fair value ang seharusna dapat mengurangi manajemen laba mengalami kendala yaitu ketidaksingkronan peraturan pajak mengenai revaluasi. Sedangkan untuk hasil uji chow didapat nilai r2 meningkat sangat kecil yaitu 0,781 menjadi 0,782. Pada hasil penelitian tersebut menunjukkan koefisien laba bersih per saham meningkat setelah adopsi IFRS dari 0,579 menjadi 0,591. Koefisien nilai buku per saham meningkat setelah adopsi IFRS dari 0,282 menjadi 0,346. Residual yang dimasukkan ke dalam rumus uji chow menghasilkan F hitung -1,967 sedangkan F tabelnya 2,43. F hitung lebih kecil daripada F tabel sehingga hipotesis kedua ditolak. Walaupun secara parsial maupun simultan terjadi peningkatan, namun uji chow menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa peningkatan relevansi secara parsial maupun simultan tidak mampu memberikan efek perbedaan signifikan paa relevansi setelah adopsi IFRS. Penigkatan manajemen laba setelah adopsi IFRS baik secara simultan maupun parsial tidak menyebabkan terjadinya perbedaan yang signifikan antara manajemen laba pra dan pasca adopsi IFRS, begitu juga dengan relevansi setelah adopsi IFRS baik simultan ataupun parsial tidak menyebabkan terjadinya perbedaan yang signifikan antara relevansi pra dan pasca adopsi IFRS.

Sumber : Lusiana Rahmawati dan Henny Murtini. Kualitas Informasi Akuntansi Pra dan Pasca Adopsi IFRS. Accounting Analysis Journal 4 (2) (2015). Universitas Negeri Semarang

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional
                                                   Nama               : F. Rianawati
                                                   Dosen              : Jessica B, S.E., Mmsi

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI