Manajemen Risiko Keuangan
Hal
Mendasar
Tujuan
utama manajemen risiko keuangan adalah untuk menimbulkan potensi kerugian yang
timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit,komoditas, dan
ekuitas. Risiko volatilitas harga yang dihadapi ini dikenal sebagai risiko
pasar. Sebagai contoh, sebuah perusahaan di Swedia yang menerbitkan saham baru
bagi investor domestik mungkin memandang risiko pasar sebagai eksposur terhadap
kenaikan saham. Kenaikan harga saham yang tidak terduga tersebut tidak
diinginkan jika perusahaan penerbit saham semestinya dapat mengeluarkan jumlah
lembar saham yang lebih sedikit untuk memperoleh jumlah uang tunai yang sama
dengan cara menunda penerbitan saham selama beberapa saat.
Peranan
Akuntansi
Akuntan
manajemen memainkan peranan yang penting dalam proses risiko manajemen. Mereka
membantu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar, mengkuantisifisikasi
keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko alternatif, mengukur
potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk
lindung nilai tertentu dan mengevaluasi efektivitas program lindung nilai.
Manajemen
Risiko di Dunia dengan Kurs Mengambang
Banyak
pergerakan harga yang telah dibahas sebelumnya saling berkaitan satu sama lain.
Di bab ini, analisis yang dilakukan dibatasi pada potensi risiko harga tertentu
yaitu : perubahan kurs valuta asing. Risiko kurs valuta asing (valas) adalah
salah satu bentuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan
multinasional. Selain itu, konsep manajemen risiko suku bunga, harga komoditas,
dan harga ekuitas.
Dalam dunia kurs
mengambang, manajemen risiko mencakup (1) antisipasi pergerakan kurs, (2)
pengukuran risiko kurs valuta asing yang dihadapi perusahaan, (3) perancangan
strategi perlindungan yang memadai, dan (4) pembuatan pengendalian manajemen
risiko internal. Semua ini akan dibahas berikut ini
·
Peramalan
atas Perubahan Kurs
Dalam
mengembangkan program manajemen risiko nilai tukar, manajer keuangan harus
memiliki informasi mengenai kemungkinan arah, waktu, dan magnitudo perubahan
kurs. Karena menyadari prospek kurs sebelumnya, manajer keuangan dapat menyusun
ukuran-ukuran defensif memadai dengan lebih efisien dan efektif. Namun demikian
apakah mungkin untuk memprediksi pergerakan mata uang dengan akurat tetaplah
sebuah masalah.
Informasi
yang sering kali digunakan dalam membuat peramalan kurs (yaitu depresiasi mata
uang) berkaitan dengan perubahan dalam faktor-faktor berikut ini :
1) Perbedaan
inflasi (inflation differential).
Bukti menunjukkan bahwa laju inflasi yang lebih tinggi di suatu negara,
cenderung akan diimbangi dalam beberapa waktu dengan pergerakan dengan nilai
yang setara tetapi berlawanan dalam nilai mata uangnya.
2) Kebijakan
moneter (monetery policy). Suatu
peningkatan dalam pasokan uang suatu negara yang melebihi laju pertumbuhan riil
hasil keluaran nasional mendorong timbulnya inflasi, yang memengauhi kurs.
3) Neraca
perdagangan (balance of trade).
Pemerintah sering kali memanfaatkan devaluasi mata uang untuk menyelesaikan
neraca perdagangan yang tidak menguntungkan (yaitu apabila ekspor <impor).
4) Neraca
pembayaran (balance of payment).
Suatu negara yang menghabiskan (mengimpor) dan berinvestasi lebih banyak di
luar dari pada yang dihasilkan atau diterimanya dalam bentuk investasi luar
negeri akan mengalami tekanan penurunan nilai mata uangnya.
5) Cadangan
moneter dan kapasitas utang luar negeri. Suatu negara yang mengalami defisit
neraca pembayaran terus menerus dapat mengantisipasi terjadinya devaluasi
dengan menurunakan tabungan (yaitu jumlah cadangan moneter internasional) atau
menurunkan kapasitas pinjaman luar negerinya.Karena jumlah sumber daya ini
menurun , kemungkinan terjadinya devaluasi meningkat.
6) Anggaran
nasional. Defisit yang disebabkan oleh pengeluaran pemerintah yang sangat besar
juga memperburuk inflasi.
7) Kurs
forward. Suatu mata uang asing yang dapat diperoleh untuk penyerahan di masa
depan dengan tingkat diskonto yang signifikan menandakan berkurangnya
kepercayaan terhadap mata uang tersebut.
8) Kurs
tidak resmi. Peningkatan dalam selisih antara kurs resmi dan tidak resmi atau
kurs pasar gelap menunjukkan tekanan yang makin meningkat terhadap pemerintah
untuk menyesuaikan kurs resminya dengan kurs pasar yang lebih realistik.
9) Perbedaan
suku bunga. Perbedaan suku bunga antara dua negara menunjukkan prediksi
perubahan dalam kurs spot pada masa mendatang.
10) Harga
opsi ekuitas luar negeri. Karena arbitrase mengaitkan suatu harga ekuitas luar
negeri di negara asal dengan nilai mata uang domestik, perubahan dalam harga
opsi suatu ekuitas asing dalam mata uang domestik menandakan perubahan dalam
ekspetasi pasar terhadap kurs valuta asing di masa depan.
Manajemen
Potensi Risiko
Menyusun
struktur permasalah perusahaan untuk meminimalkan pengaruh buruk kurs
memerlukan informasi mengenai potensi terhadap risiko valas yang dihadapi.
Potensi terhadap risiko valas timbul apabila perusahaan kurs valas juga
mengubah nilai aktiva bersih, laba dan arus kas suatu perusahaan. Pengukuran
akuntansi tradisional terhadap potensi risiko valas ini berpusat pada dua jenis
potensi risiko : translasi dan transaksi.
·
Potensi
Risiko Translasi
Potensi
risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai
ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing
yang dimiliki oleh perusahaan. Sebagai contoh, sebuah induk perusahaan AS yang
mengoperasikan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya di Ekuador (dengan mata
uang fungsional dolar AS) mengalami perubahan nilai dolar atas aktiva moneter
bersih di Ekuador jika nilai tukar sucre Ekuador mengalami perubahan relatif
terhadap dolar. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke
dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau
pelaporan keuangan eksternal. Pengaruh translasi ini menimbulkan dampak
langsung terhadap laba yang dilaporkan. Aktiva atau kewajiban mata uang asing
menghadapi potensi risiko kurs jika suatu perubahan dalam kurs menyebabkan
nilai ekuivalen dalam mata uang induk perusahaan berubah.
·
Potensi
Risiko Transaksi
Potensi
risiko transaksi. Potensi risiko transaksi berkaitan dengan keuntungan dan
kerugian nilai tukar valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang
ber denominasi dalam mata uang asing. Tidak seperti keuntungan dan kerugian
translasi, keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung terhadap
arus kas.
Laporan
potensi risiko transaksi multi mata uang untuk anak perusahaan Filipina
disajikan dalam tampilan 11-8. Laporan ini berisi pos pos yang umumnya tidak
muncul dalam laporan keuangan konvesional tetapi menimbulkan keuntungan dan
kerugian transaksi, seperti kontrak forward mata uang asing, komitmen pembelian
dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka panjang. Laporan potensi
risiko ini tidak memasukkan pos-pos yang tidak secara langsung berkaitan dengan
transaksi mata uang asing (seperti kas ditangan).
Strategi
Perlindungan
Sekali
potensi risiko kurs yang dihadapi dapat diidentifikasikan, langkah berikutnya
adalah merancang strategi lindung nilai untuk meminimalkan atau menghilangkan
potensi risiko tersebut. Strategi ini mencakup lindung nilai neraca,
operasional, dan kontraktual.
·
Lindung
Nilai Neraca. Lindung nilai neraca dapat mengurangi
potensi risiko yang dihadapi perusahaan dengan menyesuaikan tingkatan dan nilai
denominasi moneter aktiva dan kewajiban perusahaan yang terpapar. Sebagai
contoh, saldo kas yang meningkat dalam mata uang asing dapat mengimbangi
penurunan tingkat suku bunga dan pendapatan yang berasal dari instrumen
berpendapatan tetap di pasar lokal. Pada tampilan 11-6, lindung nilai secara
natural terhadap potensi risiko positif sebesar $115 juta dapat meningkatkan
pinjaman anak perusahaan Fillipina dalam peso sebesar $115 juta. Dalam kasus
ini, jumlah kas yang dipinjam harus dikembalikan kepada induk perusahaan atau
diinvestasikan pada aktiva yang tidak terpapar, karena apabila tidak posisi
aktiva terpapar bersih tidak akan berubah. Metode lindung nilai potensi risiko
perusahaan positif lainnya dalam sebuah anak perusahaan yang berlokasi di
negara yang rentan terhadap devaluasi meliputi :
1. Mempertahankan
saldo kas dalam mata uang lokal sebesar tingkat minimum yang diperlukan untuk
mendukung operasi yang berjalan.
2. Mengembalikan
laba yang di atas jumlah yang diperlukan untuk ekspansi modal kepada induk
perusahaan.
3. Mempercepat
penerimaan dari piutang dagang yang beredar dalam mata uang lokal.
4. Menunda
pembayaran utang dalam mata uang lokal.
5. Mempercepat
pembayaran utang dalam mata uang asing
6. Mengiventasikan
kelebihan utang tunai ke dalam persediaan dan aktiva lainnya dalam mata uang
lokal yang tidak terlalu terpengaruh oleh kerugian devaluasi
7. Beriventasi
dalam aktiva di luar negeri dengan mata uang yang kuat.
·
Lindung
Nilai Operasional. Bentuk perlindungan risiko ini berfokus
pada variabel-variabel yang memengaruhi pendapatan dan beban dalam mata uang
asing. Melalui peningkatan harga jual (untuk penjualan yang ditagih dalam mata
uang yang rentan terhadap devaluasi) secara proposional terhadap perkiraan
depresiasi mata uang ini akan membantu perlindungan target margin kotor. Salah
satu variasi atas hal ini adalah dengan menagih penjualan dalam mata uang
keras. Pengendalian biaya yang lebih ketat memungkinkan margin keselamatan yang
lebih besar terhadap potensi kerugian mata uang. Contoh terakhir misalnya
lindung nilai struktural, lindung ini mencakup relokasi tempat manufaktur untuk
mengurangi potensi risiko yang dihadapi perusahaan atau mengubah negara yang
menjadi sumber bahan mentah atau komponen manufaktur.
Lindung
nilai neraca dan operasional bukannya tanpa biaya. Anak perusahaan luar negeri
yang berada di negara yang rentan terhadap devaluasi sering kali didesak untuk
meminimalkan saldo modal kerja mereka yang ada dalam mata uang lokal (khususnya
kas dan piutang), dan secara bersamaan meningkatkan saldo utang dalam mata uang
lokal. Sayangnya tindakan seperti itu sering kali tidak menguntungkan. Kenaikan
potensi ekspor yang berasal dari devaluasi mungkin memerlukan lebih banyak
modal kerja dan bukan lebih sedikit. Biaya peluang berupa hilangnya penjualan
dapat jauh melebihi kerugian translasi. Juga, pinjaman dalam mata uang lokal
sebelum devaluasi mungkin saja sangat mahal. Anak perusahaan asing lainnya
umumnya memiliki ide yang serupa pada saat yang bersamaan dan akibatnya sistem
perbankan lokal dapat memenuhi permintaan seperti itu hanya dengan biaya yang sangat mahal. Lagi pula, kredit
bank selama periode tersebut biasanya sangat jarang diperoleh karena kebanyakan
negara menerapkan pembatasan kredit yang sangat ketat untuk mengatasi masalah
yang menyebabkan tekanan devaluasi pada tempat yang pertama. Biaya pinjaman
dalam kondisi seperti ini sering kali melebihi perlindungan yang ada.
·
Lindung
Nilai Kontraktual. Berbagai instrumen lindung nilai
kontraktual telah dikembankan untuk memberikan fleksibilitas yang lebih besar
kepada para manajer dalam mengelola potensi risiko valuta asing yang dihadapi.
Kebanyakan instrumen keuangan ini adalah derivatif dan bukan merupakan
instrumen dasar. Instrumen keuangan dasar, seperti perjanjian pembelian kembali
(piutang), obligasi, dan modal saham, memenuhi definisi akuntansi konvensional
untuk aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik. Instrumen derivatif merupakan
perjanjian kontraktual yang memberikan hak atau kewajiban khusus dan memperoleh
nilainya dari instrumen keuangan atau komoditas lainnya. Banyak di antaranya
didasarkan pada peristiwa yang bersifat kontijensi. Akibatnya, kebanyakan tidak
memiliki lagi karakteristik yang sama dengan instrumen yang menjadi dasarnya.
Sebagai contoh adalah swap berbasis mata uang lintas negara dengan pokok
senilai $100 juta. Di sini produk derivatif merupakan janji untuk
mempertukarkan perbedaan pembayaran bunga yang timbul, tetapi berdiri secara
independen, dari jumlah pokok atau nominal suatu pinjaman terkait yang menjadi
dasar kontrak itu. Jika suku bunga mengambang lebih besar dari suku bunga
tetap, salah satu pihak akan berutang kepada pihak lain perbedaan antara dua
jenis suku bunga itu. Besarnya jumlah yang terutang akan bergantung pada
pergerakan suku bunga. Pasar untuk derivatif merupakan pasar perdagangan global
selama 24 jam yang umumnya terdiri dari kalangan perbankan. Penjual derivatif
di seluruh dunia terkoneksi melalui sistem elektronik dan telekomunikasi yang
sangat rumit dan canggih
Akuntansi
untuk Produk Lindung Nilai
Produk lindung nilai kontraktual merupakan kontrak atau
instrument keuangan yang memungkinkan penggunaannya untuk meminimalkan,
menghilangkan, atau paling tidak mengalihkan resiko pasar pada pundak pihak
lain. Produk ini mencakup antara lain kontrak forward, future, swap, opsi dan gabungan dari ketiganya, tetapi
tidak terbatas hanya pada keempat hal ini. Sementara banyak dari instrument
derivative ini telah menjadi semakin paling dasar atau sederhana dari
instrument ini.
Perlakuan akuntansi untuk derivative keuangan yang telah
diterima sevar internasional adalah menetapkan nilai produk menurut pasar
dengan timbul keuntungan atau kerugin yang diakui sebagai bagian dari laba
nonoperasi. Setidaknya di Amerika Serikat, terdapat pengecualian mencakup hal
hal berikut:
1.
Pos-pos yang sedang dilindung nilai
menimbulkan resiko pasar yang harus dihadapi perusahaan
2.
Perusahaan mendeskripsikan strategi
lindung nilai
3.
Perusahaan menentukan instrument yang
akan digunakan untuk lindung nilai
4.
Perusahaan mencatat alasannya mengapa
lindung nilai yang dilakukan kemungkinan besar akan efektif dilakukan.
Jika
kriteria yang memadai tersebut dapat dipenuhi, maka perusahaan dapat menggunakan
keuntungan atau kerugian yang diakui dari penilaian produk lindung nilai
terhadap nilai pasar utnuk menghapuskan keuntungan atau kerugian dari transaksi
yang dilindungi nilai (sebagai contoh penjualan atau pembelian).
Kontrak
Forward Valas
Sejumlah
importir dan eksportir secara umum menggunakan kontrak forward valuta asing apabila barang yang ditagihkan dalam mata uang
asing itu dibeli dari atau dijual kepada pihak asing. Kontrak forward mengimbangi resiko keuntungan
atau kerugian transaksi karena kurs berfluktuasi diantara tanggal transaksi dan
tanggal penyelesaian. Kontrak forward
juga melindungi nilai antisipasi utang atau piutang dalam mata uang asing dan
dapat digunakan untuk berspekulasi dalam mata uang asing. Disisi lain kontrak forward ini lebih fleksibel dalam jumlah
dan durasi.
Kontrak
forward valuta erupakan perjanjian
untuk mengirimkan atau menerima jumlah mata uang tertentu yang dipertukarkan
dengan mata uang domestic, pada suatu tanggal di masa mendatang, berdasarkan
kurs tetap yang disebut sebagai kurs
forward. Perbedaan antara kurs forward
dan kurs spot yang berlaku pada tanggal kontrak forward menimbulkan adanya premium (apabila kurs forward > kurs spot) atau diskon
(kurs forward < kurs spot).
Tingkat premium dan diskon yang dikalikan dengan jumlah mata uang asing yang
akan diterima atau jumlah nominal
kontrak yang akan diserahkan menghasilkan premium atau diskonto atas kontrak forward.
Future
Keuangan
Suatu
kontrak future keuangan memiliki
sifat yang mirip dengan kontrak forward.
Seperti halnya forward, future merupakan komitmen utuk membeli
atau menyerahkan sejumlah mata uang asing pada suatu tanggal tertentu di masa
depan dengan harga yang sudah ditentukan. Atau dengan cara lain, future juga digunkana untuk penyelesaian
tunai selain penyerahan, dan dapat dibatalkan sebelum pengiriman dengan
melakukan kontrak penyeimbang untuk instrument keuangan yang sama.
Berkebalikan
dari kontrak forward, perjanjian future merupakan kontrak dalam bentuk
standar, yang berisi provisi standar terkait dengan ukuran dan tanggal
pengiriman, dan diperdagangkan pada sebuah bursa terorganisir, diniliai
berdasarkan nilai pasar pada akhir tia-tiap hari dan arus memenuhi ketentuan
margin periodik. Kerugian atas atas future
ini menimbulkan penambahan margin (margin call) sedangkan keuntungan
menimbulkan pembayaran tunai.
Para
bendaharawan perusahaan umumnya menggunakan kontrak future untuk megalihkan resiko perubahan harga kepada pihak lain.
Kontrak ini juga dapat digunkan untuk berspekulasi dalam antisipasi pergerakan
harga dan untuk memanfaatkan animali jangka pendek dalam penetapan harga
kontrak future.
Opsi
mata uang
Opsi
mata uang memberikan hak kepada pembeli untuk membeli (call) atau menjual (put)
suatu mata uang dari pihak penjual (pembuat) berdasarkan harga (eksekusi)
tertentu pada atau sebelum tanggal kadaluarsa (eksekusi) yang telah ditentukan.
Opsi jenis Eropa hanya dapat di eksekusi pada tanggal kadaluarsa. Opsi jenis
Amerika dapat dieksekusi kapan saja hingga tanggal kadaluarsa. Pembeli opsi call membayar premium untuk opsi dan
manfaatnya jika harga aktifa yang mendasari lebih tinggi daripada harga
eksekusi pada saat jatuh tempo; pembeli opsi put memperoleh manfaat jika harga
menurun dibawah harga eksekusi saat tanggal kadaluarsa. Opsi mata uang juga
dapat digunakan untuk mengelola laba.
Straddle merupakan
penjualan call dan put dalam termin yang sama. Disini
pembuat opsi melakukan pertaruhan bahwa kurs tidak akan berubah banyak selama
masa opsi. Pembuat opsi memperoleh pendapatan dari premium yang diterima dari
pembuatan opsi. Namun demikian, ini merupakan strategi yang beresiko tinggi.
Jika kurs berubah dalam jumlah yang cukup sehingga menyebabkan satu atau kedua
opsi tadi dieksekusi, maka potensi kerugian pembuat opsi menjadi tidak
terbatas.
Swap
Mata Uang
Swap
mata uang mencakup pertukaran saat ini dan dimasa depan atas dua mata uang yang
berbeda berdasarkan kurs yang telah di tentukan sebelumnya. Swap mata uang
memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan akses terhadap pasar modal yang
sebelum tidak dapat diakses dengan biaya yang relative rendah. Swap ini juga
memungkinkan perusahaan untuk melakukan lindung nilai terhadap resiko kurs yang
timbul dari kegiatan usaha internasional. Sebagai contoh, misalkan Alpha
Corporation (sebuah perusahaan multinasional di AS) bermaksud untuk mendapatkan
pinjamin berbunga tetap sebesar $10.000.000 dalam pound Inggris untuk mendanai
sebuah perusahaan afiliasi barunya di London. Alpha relative tidak dikenal di
kalangan investor inggris.
Perlakuan
Akuntansi
FASB
menerbitkan FAS No. 133, yang diklarifikasi melalui FAS 149 pada bulan April
2003, untuk memberikan pendekatan tunggal yang komprehensif atas akuntansi
untuk transaksi derivative dan lindung nilai. IFRS (dahulu IAS) NO.39, yang
baru saja direvisi, berisi panduan yang untuk pertama kalinya memberikan
tuntunan yang universal terhadap akuntansi untuk derivative keuangan. Ameskipun
kedua standar ini meiliki nada yang sama, terdapat perbedaan diantara keduanya
dalam hal banyaknya detail tuntunan implementasi.
Sebelum
kedua standar ini dibuat, standar akuntansi global untuk produk derivative
tidak lengkap, tidak konsisten dan dikembangkan secara bertahap. Situasi penuh
kehati-hatian dirasakan oleh para pembaca laporan keuangan yang berupa untuk
mengukur volume dan resiko penggunaan derivative. Provisi dasar standar ini
adalah:
a.
Seluruh intrumen derivative dicatat pada
neraca sebagai aktiva dan kewajiban. Instrument derivative dicatat sebesar
nilai wajarnya, termasuk yan melekat pada kontrak utama yang tidak dicatat
sebesar nilai wajarnya.
b.
Keuntunga dna kerugian dari perubahan
dalam nilai wajar instrument derivative bukanlah aktiva atau kewajiban. Secara
otomatis, keduanya diakui sebagai laba jika direncanakan sebagai lindung nilai.
Terdapat tiga jenis hubungan lindung nilai yanghendak diakui , diukur, dan
diungkapkan : lindung nilai wajar yang
mencakup aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang diakui dan komitmen
perusahaan dalam mata uang asing, lindung nilai investasi bersih dalam operasi luar negeri (NI) dan lindung nilai arus kas yang mencakup transaksi
berdenominasi valas yang diperkirakan akan terjadi.
c.
Lindung nilai haruslah sangat efektif
agar layak mendapatkan perlakuan akuntansi khusus, yaitu keuntungan atau
kerugian atas instrument lindung nilai secara tepat harus mengimbangi
keuntungan atau kerugian sesuatu yang dilindungi nilai.
d.
Hubungan lindung nilai atas aktiva atau kewajiban dalam mata uang asing
yang diakui dan komitmen perusahaan dalam mata uang asing yang belum diakui,
keuntungan atau kerugian yan timbul dari perubahan nilai wajar instrument
derivative dimasukkan segera sebagai laba. Perubahan dalam nilai aktiva,
kewajiban atau komitmen perusahaan dalam mata uang asing yang sedang dilindung
nilai juga diakui dalam laba kini.
e.
Keuntungan atau kerugian dari Investasi bersih dalam mata uang asing pada
awalnya dicatat dalam laba komprehensif lainnnya. Selanjutnya,
direklasifikasikan ke dalam laba berjalan jika anak perusahaan tersebut dijual
atau dilikuidasi.
f. Keuntungan
atau kerugian dari lindung nilai terhadap arus
kas masa depan yang belum pasti, seperti perkiraan penjualan ekspor, pada
awalnya diakui sebagai bagian dari laba diperkirakan terjadi itu memengaruhi
laba.
Isu Praktik
Meskipun aturan penuntun yang dikeluarkan oleh FASB dan
IASB telah banyak mengklarifikasi pengakuran dan pengukuran derivative, masih
saja terdapat beberapa masalah. Yang pertama berkaitan dengan penentuan nilai
wajar . Wallace menyebutkan terdapat 64 kemungkinan perhitungan untuk mwngukur
perubahan dalam nilai wajar resiko yang seang dilindung nlai; nilai pasar
wajar, penggunn kurs spot nilai tukar ke-kurs spot lainnya, penggunaan kurs forward nilai tukar ke kurs forward nilai tukar lainnya, dan
penggunaan model penentuan harga opsi. Terdapat banyak cara untuk menghitung
perubahan dalam nilai investasi lindung nilai. Akhirnya, perhitungan ini dapat
dilakukan baik sebelum atau sesudah pajak. Kompleksitas pelaporan keuangan juga
semakin meningkat jika lindung nilai dianggap tidak “ sangat efektif” untuk
mengimbangi resiko valas. Namun demikian istilah sangat efektif ini merupakan sesuatu yang subjektif. FASB
merekomendasikan kisaran sebesar 80-120%. Jika hubungan ini tidak terpenuhi
lindung nilai dihentikan dan keuntungan
atau kerugian yang ditangguhkan sebelumnya diakui dalam laba berjalan. Pada
gilirannya, ini akan memunculkan kembali volatilitas yang tidak diinginkanke
dalam arus laba yang dilaporkan perusahaan. Sebenarnya, lindung nilai yang
sangat efektif tidak akan mampu menghilangkan seluruh pengaruh perubahan valas
terhadap laba. Berikutnya ada beberapa perlakuan akuntansi tertentu untuk
kontrak forward yang digunakan sebagai tampila lindung nilai:
- LINDUNG
NILAI ATAS AKTIVA, KEWAJIBAN YANG DIAKUI ATAU KOMITMEN PERUSAHAAN YANG BELUM
DIAKUI
-
LINDUNG
NILAI INVESTASI BERSIH DALAM OPERASI LUAR NEGERI
Kapan
saja sebuha anak perusahaan luar negeri yang memiliki posisi aktiva bersih terpapar
jika nilai mata uang asing mengalami penurunan relative terhadap mata uang
induk perusahaan. Salah satu cara untuk meminimalkan kerugian ini adalah dengan
membeli kontrak forward. Strategi ini
berarti menggunakan keuntungan transaksi yang direalisasikan dari kontrak forward unutk mengimbangi kerugian
translasi.
-
BERSPEKULASI
DALAM MATA UANG ASING
Terdapat
peluang untuk meningkatkan laba dilaporkan dengan menggunakan kontrak forward dan opsi dalam pasar valas. Perlakuan
akutansi untuk instrument mata uang asing lainnya yang dibahas adalah mirip
dengan perlakuan untuk kontrak forward.
Perlakuan akuntansi didasarkan pada sifat aktivitas lindung nilai; yaitu apakah
derivative melndungi nilai komitmen perusahaan, transaksi yang akan terjadi,
investasi bersih pada operasi luar negeri, dan sebagainya. Kesulitan dalam
pengukuran nilai wajar dan perubahan dalam nilai instrument lindung nilai
terjadi apabila derivative keuangan tidak diperdagangkan secara aktif.
·
Pengungkapan
Sebelum
dikeluarkan standar seperti FAS 133 dan IAS 39, pengungkapan keuangan
perusahaan tidak memberi tahu kepada pembaca apakah atau sejauh mana manajemen
telah mengggunakan kontrak derivative. Melakukan analisis atas pengaruh
potensial kontrak derivative terhadap kinerja yang dilaporkan dan terhadap
karakteristik risik suatu perusahaan merupakan hal yang sukar dilakukan.
Pengungkapan itu antara lain:
a.
Tujuan dan startegi manajemen resiko
untuk melakukan transaksi lindung nilai
b.
Deskripsi pos-pos yang dilindungi nilai
c.
Identifikasi resiko pasar dari pos-pos
yang dilindungi nilai
d.
Deskripsi mengenai instrument lindung
nilai
e.
Jumlah yang tidak dimasukkan dala
penilaian efektivitas lindung nilai
f.
Justifikasi awal (apriori) bahwa hubungan
lindung nilai tersebut akan sangat efektif untuk meminimalkan resiko pasar
g.
Penilaian berjalan mengenai efektivitas
lindung nilai actual dari seluruh derivative yang digunakan selama periode
berjalan
·
Kendali keuangan
Setiap strategi manajemn resiko
keuangan harus mengevaluasi efektifitas program lindung nilai. Umpan balik dari
sistem evaluasi yang berjalan akan membantu untuk menyusun pengalaman
kelembagaan dalam praktik manajemen resiko. Penilaian kinerja program manajemen
resiko juga memberikan informasi mengenai kapan strategi yang ada sudah tidak
lagi tepat utnuk dilakukan.
·
Poin – poin Pengendalian Keuangan
Sistem evaluasi kinerja terbukti bermanfaat dalam
berbagai sektor. Setor ini mencakup, tetapi tidak terbatas pada, bagian
treasuri perusahaan, pembelian dan anak perusahaan luar negeri. Control
terhadap bagian treasuri perusahaan mencakup pengukuran kinerja seluruh program
manajemen resiko nilai tukar, mengidentifikasi lindung nilai yang digunakan,
dan pelaporan hasil lindung nilai. Sistem evaluasi tersebut juga mencakup
dokumentasi atas bagaimana dan sejauh apa bagian treasuri perusahaan membantu
unit usaha lainnya dalam organisasi itu.
-
ACUAN
YANG TEPAT
Objek
dari manajemen resiko adalah untuk mencapai keseimbangan antara pengurangan
resiko dan biaya. Dengan demikian, standar yang tepat yang digunakan untuk
menilai kinerja actual merupakan bagian yang diperlukan dalam setiap sistem
penilaian kinerja. Acuan ini perlu diperjelas di bagian awal sebelum pembuatan program
perlindungan dan harus didasarkan pada konsep biaya kesempatan. Dalam manajemen
resiko valuta asing, pertanyaan-pertanyaan berikut ini harus dipertimbangkan
ketika hendak memilih sebuah acuan:
a.
Apakah acuan yang tepat mewakili suatu
kebijakan yang seharusnya diikuti?
b.
Apakah acuan ini dapat diperjelas di
bagian awal?
c. Apakah
acuan ini memberikan strategi dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan
alternative lainnya?
Jika program manajemen resiko valas
tersentralisasi, maka acuan yang tepat dapat digunakan untuk mengukur
keberhasilan program perlindungan resiko perusahaan merupakan program yang
dapat diimplementasikanoleh manajer setempat.
·
Sistem Pelaporan
Sistem pelaporan resiko keuangan harus dapat
merekonsiliasi sitem pelaporan internal dan eksternal. Kegiatan manajemen
resiko memiliki orientasi ke depan. Namun demikian, pada akhirnya mereka harus
merekonsiliasikan dengan pengukuran potensi resiko dan akun-akun keuangan untuk
keperluan pelaporan eksternal. Hal ini umumnya merupakan wilayah kekuasaan
departemen kontroler perusahaan. Pendekatan tim merupakan cara yang efektif
dalam merumuskan tujuan resiko keuangan, standar kinerja, serta sistem
pengawasan dan pelaporan. Manajemen resiko keuangan merupakan contoh utama
dimana keuangan perusahaan dan akuntansi sangat berkaitan erat.
Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional
Nama : Anis Septriyani
Friska Rianawati
Meta Valianda
Dosen : Jessica Barus, SE., MMSI.
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar