Jumat, 06 Mei 2016

PERKEMBANGAN PENGUNGKAPAN & PELAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEBELUM DAN SETELAH PENERAPAN INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARD (IFRS)



1.     Pengertian IFRS
International Financial Report Standar (IFRS) dikeluarkan oleh organisasi yang bernama IASB atau International Accounting Standar Board. IFRS kemudian dijadikan sebagai pedoman penyajian laporan keuangan di berbagai negara. Pengenalan standar akuntansi internasional terbaru yang mengacu pada IFRS di Indonesia dan dikombinasikan dengan peraturan-peraturan akuntansi atau sering disebut PSAK yang telah diadopsi selama beberapa tahun terakhir, telah membuat akuntansi dan kerangka kerja audit yang baru.
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standar Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional (IFAC). International Accounting Standar Board (IASB) yang dahulu bernama International Accounting Standar Committee (IASC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al.,2005).
Menurut Immanuella (2009) tujuan IFRS:

  1. memastikan bahwa laporan keungan intern perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi
  2. Transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan.
  3. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
  4. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna. 

2.     Perkembangan IFRS di Indonesia
            Konvergensi PSAK dengan IFRS/IAS merupakan salah satu komitmen dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang telah bergabung dengan International Federation of Accountants (IFAC). Indonesia dan anggota G20 lainnya resmi menyetujui konfergensi IFRS pada pertemuan G20 tanggal 24-25 September 2009 untuk menghilangkan perbedaan standar yang ada disetiap negara.  Indonesia mulai melaksanakan konver-gensi International Financial Reporting Standards (IFRS) terhadap Standar Akuntansi Keuangan pada tahun 2008. Konvergensi ini dilakukan secara bertahap dengan target pertama penerapan IFRS dapat diselesaikan pada tahun 2012. Penerapan IFRS di Indonesia ini lebih lambat dibandingkan negara-negara di Uni Eropa yang telah mengharuskan perusahaan untuk menerapkan IFRS secara penuh mulai 1 Januari 2005. Sementara itu, Australia telah menerapkan IFRS secara lebih awal lagi yaitu pada tahun 2002. Konvergensi IFRS di Indonesia mulai dilakukan dengan berlakunya tiga PSAK berbasis IAS secara efektif pada tahun 2008. Disusul dengan satu PSAK berbasis IAS yang berlaku efektif pada tahun 2009. Pada tahun 2010 terdapat tiga PSAK dan satu ISAK berbasis IAS/IFRS dan lima Pencabutan PSAK yang sebelumnya berlaku efektif, selanjutnya tahun 2011 terdapat 15 PSAK dan enam ISAK berbasis IFRS yang berlaku efektif. Secara rinci, tahap-tahap penerapan IFRS/IAS disajikan pada Tabel 1A, 1B dan 1C. Penerapan IFRS diklaim akan memberi manfaat bagi peningkatan kualitas laporan keuangan. Hal ini telah mendorong dila-kukannya penelitian-penelitian untuk menguji secara empiris apakah penerapan IFRS te-lah meningkatkan kemampuan informasi akuntansi dalam mengestimasi harga saham, yang dikenal dengan studi relevansi nilai (value relevance).
Menurut Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK), tingkat pengadopsian IFRS dapat dibedakan menjadi 5 tingkat:

1. Full Adoption Suatu negara mengadopsi seluruh produk IFRS dan menerjemahkan IFRS word by word ke dalam bahasa yang negara tersebut gunakan. 
2.  Adopted
Mengadopsi seluruh IFRS namun disesuaikan dengan kondisi di negara tersebut
3. Piecemeal

Suatu negara hanya mengadopsi sebagian besar nomor IFRS yaitu nomor standar tertentu dan memilih paragraf tertentu saja. 
4.  Referenced 
 Sebagai referensi, standar yang diterapkan hanya mengacu pada IFRS tertentu dengan bahasa dan paragraf yang disusun sendiri oleh badan pembuat standar.
 5. Not adopted at all
Suatu negara sama sekali tidak mengadopsi IFRS.

     Proses konvergensi IFRS di Indonesia, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2008, setelah

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) meresmikan (grand launching) program konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS), yaitu prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (Indonesian GAAP) akan dikonvergensikan secara penuh dengan IFRS pada tanggal 1 Januari 2012. Konvergensi IFRS di Indonesia didukung penuh oleh Pemerintah, khususnya Kementerian BUMN.
Berikut merupakan roadmap konvergensi di Indonesia berdasarkan tahapan tersebut:
 

Tabel 1.Roadmap konvergensi IFRS di Indonesia


Tahap Adopsi
(2008-2010)
Tahap Persiapan Akhir
Tahun (2011)
Tahap Implementasi (2012)
Adopsi seluruh IFRS ke PSAK
Persiapan infrastruktur yang diperlukan


Evaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku.
Penyelesaian infrastruktur yang diperlukan
Penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS
Penerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahap
Evaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensif


C.  Pengungkapan Pelaporan Keuangan Perusahaan Sebelum dan Setelah IFRS

Sebelum IFRS
Standar akuntansi Indonesia sebelum konvergensi merupakan standar yang fleksibel yang memungkinkan adanya pemberlakuan metode-metode akuntansi yang berbeda pada setiap perusahaan. Standar yang fleksibel ini menimbulkan kemungkinan terjadinya accounting creative dan manajemen laba.

Setelah IFRS
Dampak adopsi IFRS pada laporan keuangan perusahaan dan pada manajemen perusahaan menunjukan IFRS memiliki dampak positif terhadap laporan keuangan, peningkatan ekuitas perusahaan, dan manajemen perusahaan menjadi lebih bertanggungjawab (accountable). 
Dalam penelitian Wahyu Hidayat (2011) Adapun perbedaan sebelum dan sesudah ifrs, sebagai berikut:
1. Setelah IFRS


A. Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :
- Laporan posisi keuangan (neraca)

- Laporan laba rugi komprehensif
- Laporan perubahan ekuitas
- Laporan arus kas
- Catatan atas laporan keuangan
- Laporan posisi keuangan komparatif awal periode dan penyajian retrospektif terhadap penerapan kebijakan akuntansi

B. Pengakuan dan Pengukuran:
- Biaya historis
- Biaya sekarang ( apa yang harus dibayar hari ini untuk mendapatkan aset. Ini sering diperoleh dalam penilaian yang sama dengan nilai wajar)
- Nilai realisasi (jumlah kas yang dapat diperoleh saat ini jika aset dilepas)
- Nilai wajar
- Pengakuan pendapatan
- Pengakuan beban
- Pengungkapan penuh


C. Kualitas Informasi Akuntansi :

Manajemen Laba
Relevansi Nilai Laba
Relevansi Nilai
 
2. Sebelum IFRS :
 a. Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :

            - Neraca
            - Laporan laba rugi
            - Laporan perubahan ekuitas
            - Laporan arus kas
            - Catatan atas laporan keuangan

b. Pengakuan dan pengukuran:
            - Biaya historis
            - Pengakuan pendapatan
            - Pengakuan beban
            - Pengungkapan penuh




c. Kualitas Informasi Akuntansi :
-          Manajemen Laba
-          Relevansi Nilai Laba
-          Relevansi Nilai
 



D.        Pengungkapan Laporan Keuangan Terbaik di Indonesia Tahun 2014 

      Pentingnya laporan keuangan memberikan informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil – hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan, dapat lebih berarti bagi pihak – pihak yang berkepentingan apabila laporan keuangan diperbandingkan untuk dua periode atau lebih dan dilakukan analisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang lebih jelas dalam mendukung keputusan yang akan diambil. Tujuan utama laporan keuangan dibuat dan disajikan, yaitu:
(1) Untuk memberikan informasi tentang posisi dan hasil kinerja keuangan perusahaan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (investor, kreditur, dan pemerintah) dalam rangka membuat keputusan-keputusan bisnis
(2) Untuk menunjukkan pertanggung-jawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Sebuah laporan keuangan dikatakan baik dan memenuhi persyaratan bila disusun sedemikian rupa sehingga kedua tujuan tersebut bisa dicapai.

      Adapun  menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengumumkan penghargaan kepada perusahaan dengan laporan keuangan terbaik dalam ajang tahunan Annual Report Award (ARA) 2014. Penghargaan diberikan berdasarkan praktik Good Corporate Governance (GCG). Juara umum dari penghargaan ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). ARA terselenggara atas kerjasama 7 instansi penyelenggara yaitu OJK, Kementerian BUMN, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, Komite Nasional Kebijakan Governance, BEI, dan Ikatan Akuntan Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, kualitas keterbukaan informasi dalam laporan tahunan diharapkan dapat terus meningkat untuk dapat menunjang pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan perbaikan dalam transparansi informasi, yang merupakan salah satu pilar GCG diyakini akan meningkatkan kesadaran perusahaan untuk menerapkan pengelolaan perusahaan dengan baik serta meningkatkan kesiapan perusahaan di Indonesia untuk bersaing di kawasan regional bahkan global. Adanya praktik corporate governance di Indonesia yang semakin meningkat sejalan dengan dinamika perkembangan ‎standar dan praktik GCG. Pada ARA 2014, sejumlah perubahan dilakukan untuk menselaraskan kriteria penilaian dengan peraturan OJK terkait dengan peraturan tentang tata kelola dan kriteria ASEAN corporate governance scorecard yang dilaksanakan dalam kerangka ASEAN Capital Market Forum (ACMF). ‎Proses penjurian dilakukan melalui tahapan penilaian atas laporan tahunan dari seluruh peserta yang dilakukan dengan beberapa tahapan cek dan ricek. Selanjutnya, dari hasil penilaian tersebut, Dewan Juri menentukan nominasi pemenang dari setiap kategori untuk masuk tahap wawancara. Adapun 11 kategori pemenang dalam ARA 2014 yang diurutkan dari juara satu sampai tiga sebagai berikut:

A. Keuangan BUMN Keuangan Listed (BKL):
1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) ‎Tbk (BBRI).
3. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

B.‎ BUMN Non Keuangan Listed (BNKL):
1. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM).
2. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).
3. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).



C. Private Keuangan Listed (PKL):
1. PT Bank Victoria International Tbk.
2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
3. PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (ADMF).
 
D. Private Non Keuangan Listed (PNKL):
1. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON)‎.
2. PT Elnusa Tbk (ELSA).
3. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
E. BUMN Keuangan Non Listed (BNKL):
1. PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero).
2. Perum Jaminan Kredit Indonesia.
3.‎ PT Taspen (Persero).

F. BUMN Non Keuangan Non Listed (BNKNL):
1. PT Pertamina (Persero).
2. PT Angkasa Pura II (Persero).
3. PT Bio Farma (Persero).
G. Private Keuangan Non Listed (PKNL):
1. ‎PT Bank BNI Syariah.
2. PT Bank Syariah Mandiri.
3. PT Bank Mayora.
 
H. Private Non Keuangan Non Listed (PNKNL):
1. PT Pupuk Kalimantan Timur.
2. PT Pelayanan Listrik Nasional Batam.
3. PT Garuda Maintenance Facility Aeroasia.

I. BUMD Listed (BUMDL):
1. PT Bank DKI.
2. PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk.
3. PT BPD Nusa Tenggara Timur.
J. BUMN Non Listed (BUMDNL):
1. PT BPD Sumsesl dan Babel.
2. PT BPD Jawa Tengah.
3. PT BPD Kalimantan Barat.
 
K. Dana Pensiun (Dapen):
1. Dana Pensiun Bank Indonesia.
2. Dana Pensiun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
3. Dana Pensiun PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
 
      Kriteria penilaian ARA direview setiap tahun dan disesuaikan dengan perkembangan terkini dari praktik GCG. Sehingga, diharapkan praktik corporate governance di Indonesia akan terus meningkat sejalan dengan dinamika perkembangan standar dan praktik GCG. Pada ARA 2014 ini, sejumlah perubahan dilakukan untuk menyelaraskan kriteria penilaian dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait dengan peraturan tentang tata kelola dan kriteriaASEAN corporate governance scorecard yang dilaksanakan dalam kerangka Asean Capital Market Forum (ACMF) sebagai bagian dari proses pelaksanaan program ASEAN economic community yang dilaksanakan pada tahun 2015. Beberapa kriteria baru antara lain pengungkapan mengenai keberagaman komposisi dewan komisaris dan direksi dan pengungkapan nama dan persentase kepemilikan 20 pemegang saham terbesar.

Sumber:
1. Dhany Guno Samekto “PENGARUH PENGADOPSIAN INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARD TERHADAP CATATAN AUDITOR”  Universitas  Diponegoro Semarang. 2013. (diakses pada 15 April 2016, 14:20)

2. Siti Suprihatin dan Elok Tresnaningsih "Dampak Konvergensi International Financial Reportng Standards terhadap nilai relevan informasi akuntansi".  Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Volume 10 Nomor 2 hal 171-183, Desember 2013 (diakses pada 15 april 2016, 14:42)
3. Icih, 2014. “Analisis Kualitas Informasi Akuntansi Sebelum dan Sesudah Adopsi Penuh IFRS”STIE Sutaatmadja Subang. Proceedings SNEB 2014 (Diakses pada 15 april 2016, 17:26)



4. WAHYU HIDAYAT “ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH IMPLEMENTASI PSAK BERBASIS IFRS(Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di BEI)”
5. Nur Cahyonowati & Dwi Ratmono "Adopsi IFRS dan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi" , Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro 
( web jurusan akuntansi FEB-UNCEN).

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Mengetahui Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional
                        Nama               : F. Rianawati
                        Dosen              : Jessica B, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI







Tidak ada komentar:

Posting Komentar