Rabu, 29 Oktober 2014

Tugas Softskill Bahasa Indonesia

PENALARAN INDUKTIF


A. Pengertian Penalaran

Penalaran adalah proses berfikir yang sistemik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan penalran deduktif. Perbedaan dasar diantara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif dengan progesi secara logis dari bukti - bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus sementara dengan induktif, dinamika logisnya justru sebaliknya dari bukti - bukti khusus kepada kebenaran ataun kesimpulan uyang umum. Perbedaan antar keduanya, dapat digambarkan sebagai berikut.

- Penalaran Deduktif :
  Umum
  Umum           Khusus
  Umum

- Penalaran Induksi :
  Khusus
  Khusus          Umum
  Khusus


B. Penalaran Induktif

Penalaran Induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta - fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi. Penalaran Induktif terkait dengan empirisme. Secara empirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. 

Contoh Penalaran Induktif :
            Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Singa laut berdaun telinga  berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

Ada 5 jenis Penalaran Induktif :

1. Generalisasi

Penalaran generalisasi dimulai dengan peristiwa - peristiwa khusus untuk mengambil kesimpulan umum. Kesimpulannya, generalisasi merupakan pengambilan kesimpulan umum berdasarkan fakta dan data yang bersifat umum.
Contoh :
       Setelah karangan anak - anak kelas 4 diperiksa, ternyata Rafael, Adi, Tono, Pandi, dan Burhan mendapat nilai 8,5. Anak -anak yang lain mendapat 7. Hanya Maman yang mendapatkan nilai 6, dan tidak seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh dikatakan, anak -anak kelas 3 cukup pandai mengarang.

Generalisasi dibedakan menjadi 2 macam dan 2 jenis, diantaranya :

1. Macam - macam generalisasi :

  - Generalisasi Sempurna
    Dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan kesimpulan sangat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselediki.

  - Generalisasi tidak sempurna 
    Berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselediki.

2. Jenis - Jenis Paragraf Generalisasi  :

  - Loncatan Induktif
    Paragraf yang tetap bertolak dari beberapa fakta namun fakta yang ada belum bisa mencerminkan seluruh fenomena yang terjadi. Generalisasi jenis ini sangatlah lemah karena dasar faktanya belum bisa mencerminkan seluruh fenomena.

  - Tanpa Loncatan Induktif
    Paragraf yang memberikan cukup banyak fakta dan lengkap sehingga bisa mewakili keseluruhan. Paragraf ini sangat baik karena kebenarannya dapat dipercaya menggunakan fakta yang lengkap.


2. Analogi

Analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, anda dapat menarik kesimpulan.
Contoh :
    Sifat manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang luas. Ketika manusia itu meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan sifatnya akan menjadi rendah hati dan dermawan. begitu pula dengan padi yang semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri tegak.
    Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.


3. Hubungan Kausal

Hubungan Kausal adalah pola penyusunan paragraf dengan menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab-akibat. Jika hujan terus menerus datang, maka akan terjadi banjir atau Dina pergi ke dokter karena ia sedang tidak enak badan.

Ada 3 pola hubungan Kausalitas, yaitu :

- Sebab - akibat

   Paragraf yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulanyang menjadi akibat.
Contoh :  Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya pohon - pohon di hutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Disamping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengeharankan panen di desa ini selalu gagal.

- Akibat - sebab

   Dalam pola ini kita memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa itu kemudian kita analisis untuk mencari penyebabnya.
Contoh : Kemarin Badu tidak masuk kantor. Hari ini pun tidak masuk. Pagi tadi istrinya pergi ke apotek membeli obat. Karens itu pasti Badu itu sedang sakit.

- Sebab - akibat 1 Akibat 2

   Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikian seterusnya hingga timbul beberapa akibat.
contoh : Pasokan beras di pasar tradisional pun semakin lama semakin menipis sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan beras. Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan impor beras dari negara tetangga dengan harapan masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan pangannya selama menunggu hasil panen berikutnya.


4. Hipotese dan teori

Hipotese adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta - fakta tertentu dalam penuntuk dalam penelitian fakta lebih lanjut. Sebaliknya teori merupakan hipotese yang relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese. Teori adalah azas yang umum dan abstrak yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena-fenomena yang ada. Hipotesa merupakan suatu dugaan yang bersifat sementara mengenai sebab-sebab atau relasi fenomena-fenomena, sedangkan teori merupakan hipotese yang telah diuji dan dapat diterapkan pada fenomena yang relevan atau sejenis.

Untuk merumuskan hipotese yang baik perhatikan ketentuan berikut :

1).  Memperhitungkan semua evidensi yang ada
2).  Bila tidak ada alasan lain, maka antara dua hipotesa yang mungkin diturunkan, lebih baik memiloh hipotesa yang sederhana daripada yang rumit.
3).  Sebuah hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia.
4).  Hipotese bukan hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya, tertapi harus menjelasakan fakta-fakta sejenis yang belum diselidiki.


5.  Induksi dalam metode eksposisi

SepertI yang telah dikemukakan diatas, utnuk menetapkan apakah data dan informasi yang kita peroleh itu merupakan kenyataan atau yang sungguh-sungguh terjadi. Pada tahap selanjutnya pengarang atau penulis perlu mengadakan penilaian selanjutnya, guna memperkuat fakta yang akan digunakan sehingga memperkuat kesimpulan yang akan diambil. Dengan kata lain, perlu diadakannya seleksi untuk menentukan fakta mana yang akan dijadikan evidensi.

    A. Konsistensi

    Dasar Pertama yang dapat dipakai untuk menetapkan fakta mana yang akan digunakan sebagai evidensi adalah Kekonsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga persuasif yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten, tidak ada satu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi lainnya.

    B. Koheresi

    Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan penelitian fakta yang dapat digunakan sebagai evidensi adalah masalah Koherensi. Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus koheren dengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan sikap yang berlaku. Penulis harus dapat meyakinkan para pembaca utnuk dapat setuju, atau menerima fakta-fakta dan jalan pikiran yang kemukakannya, maka secara konsekuen pula pembaca harus menerima hal lain, yaitu Konklusinya.


SUMBER :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar